Sukses Membangun Telecenter

E-mail Cetak PDF
DITENGAH berkembangnya penerapan e-government, istilah ‘telecenter’ juga makin sering terdengar. Banyak kalangan pemerintahan daerah tertarik ingin membangun telecenter. Ide pembangunan telecenter sendiri diawali dari kepedulian berbagai pihak untuk memutus rantai kemiskinan.

DITENGAH berkembangnya penerapan e-government, istilah ‘telecenter’ juga makin sering terdengar. Banyak kalangan pemerintahan daerah tertarik ingin membangun telecenter. Ide pembangunan telecenter sendiri diawali dari kepedulian berbagai pihak untuk memutus rantai kemiskinan.

Telecenter mempunyai tujuan untuk membantu pemberdayaan masyarakat desa melalui peningkatan pemahaman dan pemanfaatan informasi dan komunikasi (infokom). Dengan pemberdayaan infokom, masyarakat desa diharapkan mempunyai ’suara’ di lingkungannya. Dengan adanya infokom yang lebih baik, mereka misalnya kemudian bisa ikut menentukan perencanaan pembangunan dan pengalokasian sumber daya bagi peningkatan kesejahteraan mereka.

Namun, banyak yang belum memahami roh dari pembangunan telecenter secara utuh. Seringkali pembangunan telecenter terpaku pada fisik dan teknologinya yang canggih. Di India, bahkan ribuan telecenter dibangun hanya berupa sebuah komputer plus printer dan koneksi ke internet di sebuah ruangan sempit di samping kandang kerbau/ sapi.

Pengalaman pembangunan telecenter di berbagai daerah di Indonesia juga menemui sejumlah kendala. Diantaranya mengenai kendala geografis pedesaan seperti tidak tersedianya listrik, bandwidth internet (faktor jarak dan harga) atau keterbatasan jumlah dan kemampuan SDM. Pembangunan telecenter yang bersifat top-down dan sentralistik seringkali menimbulkan dampak minimnya ‘rasa memiliki’ dan partisipasi masyarakat terhadap keberadaan telecenter.

Kenyataan lain ada juga beberapa telecenter yang tidak bisa mendapatkan pendapatan untuk menutupi biaya pengeluaran operasional (listrik, telepon, internet, gaji karyawan, dsb). Sementara, telecenter tidak dapat terus mengandalkan uluran tangan dari pendonor atau pemerintah daerah untuk menutupi kekurangan tadi. Berbagai kondisi dan permasalahan ini yang menjadi kesulitan dalam pengembangan telecenter.

Lalu sebenarnya bagaimana strategi pengembangan telecenter yang mandiri, berkelanjutan di pedesaan ?

Pada dasarnya, telecenter bersifat multi fungsi untuk melayani berbagai kebutuhan dalam menyediakan informasi dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat (demand-driven content and services). Telecenter harus mampu memfasilitasi proses belajar dan peningkatan kapasitas warga. Telecenter juga meningkatkan jaringan pertemanan, pasar, ahli, dari warga ke tingkat nasional dan bahkan internasional, baik melalui komunitas tradisionil (pertemuan desa, arisan, pengajian, PKK, dsb) maupun yang modern (radio komunitas, televisi komunitas, blog, cerita digital, dsb).

Beberapa pembelajaran (lessons learned) dari pembangunan telecenter yang berhasil adalah dengan memastikan agar keberadaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam telecenter harus mampu menghasilkan perbaikan kualitas hidup di masyarakat sekitarnya khususnya dalam meningkatkan nilai ekonomi dan sosial mereka.

Oleh karena itu layanan yang relevan untuk masyarakat (demand-driven) yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari komunitas masyarakat desa perlu digali melalui proses infomobilisasi. Infomobilisasi dilakukan oleh tenaga fasilitator (semacam pendamping) untuk ”merekatkan” antara kegiatan masyarakat desa dengan akses infokom dalam telecenter. Buku Panduan untuk fasilitator infomobilisasi bisa dilihat di www.indonesiatelecenter.net.

Pembangunan telecenter agar berkelanjutan juga membutuhkan gerakan inisiatif nasional dalam memberdayakan masyarakat melalui TIK dan infokom. Dalam hal ini, penulis menyebut dengan istilah Indonesia Telecenter 2.0 (versi kedua). Pembangunan telecenter nantinya bukan lagi hanya proyek percontohan melainkan harus bersifat kebijakan nasional. Telecenter-telecenter yang ada bergabung dalam jejaring telecenter (Indonesia Telecenter Network) yang menghubungkan tidak hanya pengelolanya, namun juga warga, relawan, penyedia layanan dan program serta stakeholder lainnya.

Jejaring ini juga mempunyai jejaring pendukung (Telecenter Support Network) yang memfasilitasi upaya nasional dari berbagai stakeholder untuk menyediakan konten, layanan, program, teknologi, pelatihan, konsultasi, kemitraan dan pendanaan bagi kegiatan telecenter. Jaringan pendukung ini secara khusus juga memiliki jaringan peningkatan kapasitas pekerja telecenter (Telecenter Network Academy) dalam bentuk pelatihan, lokakarya, konferensi, ‘telecenter leadership forum’, sertifikasi dll.
Dalam menyiapkan akses internet dan komunikasi dalam Telecenter seharusnya juga tidak membutuhkan membangun secara fisik dari awal. Telecenter nantinya bisa memanfaatkan adanya jaringan akses komunikasi yang sudah ada saat ini seperti Jejaring Pendidikan Nasional (www.jardiknas.org) dan Warung Internet (www.awari.or.id dan www.apwkomitel.org).

Antara Jardiknas dan Warnet, jika dijumlahkan keduanya ada lebih dari 20 ribu titik di seluruh pelosok Indonesia. Kedua bentuk akses tersebut sangat berpotensi untuk menjadi telecenter, yakni telecenter berbasis sekolah (School-Based Telecenter = SBT) dan telecenter berbasis warnet (Warnet-Based Telecenter = WBT). Kedua bentuk ini sudah diimplementasikan di banyak negara.

SBT dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pada jam-jam di luar jam sekolah untuk berbagai kegiatan pemberdayaannya sehingga penggunaan perangkat yang ada menjadi maksimal. WBT memanfaatkan jam “sepi” warnet untuk difungsikan sebagai tempat kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan mekanisme ‘keanggotaan’ atau ‘diskon’ yang menarik bagi masyarakat sekaligus moda perekrutan pelanggan baru bagi si warnet atau bentuk implementasi corporate social responsibility mereka.

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 10 Juni 2008 16:09 )

Batik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Batik Indonesia

Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya “wax-resist dyeing”.

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua Afrika. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari Jawa.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.

[sunting] Cara pembuatan

Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

[sunting] Jenis batik

  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.

Minggu, 2007 Desember 23

Apakah Telecenter?


Apakah telecenter itu?
Telecenter merupakan tempat mengakses informasi, berkomunikasi dan mendapatkan layanan sosial dan ekonomi dengan menggunakan sarana teknologi informasi dan komunikasi berupa komputer dan sambungan ke internet. Kegiatan ini sesuai pula dengan “World Summit Information Technology” yang dideklarasikan di Geneva tahun 2003 bahwa untuk tahun 2015 diharapkan seluruh desa di dunia sudah tehubung secara online. Selain itu telecenter diharapkan merupakan tempat dilaksanakannya kegiatan pemberdayaan masyarakat yang antara lain berupa pelatihan peningkatan ketrampilan dan pengetahuan serta pelaksanaan kegiatan ekonomi masyarakat secara profesional yang didukung oleh fasilitas telecenter

Maksud dan Tujuan Program
Pendirian telecenter di daerah pedesaan merupakan program pengembangan komunitas lokal dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang mempunyai maksud dan tujuan sebagai berikut :
1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat miskin ( petani dan nelayan ) terutama dalam hal pengelolaan usaha dan pemasaran hasil usaha di bidang pertanian.
2. Meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat miskin melalui penyuluhan dengan pemanfaatan ICT.
3. Meningkatkan produksi bidang pertanian dengan adanya pemasaran yang lebih terbuka dan luas melalui informasi pemasaran yang ada di internet.
4. Meningkatkan kualitas SDM di tingkat desa melalui pelatihan-pelatihan terutama di bidang teknologi informasi dan bahasa Inggris untuk mempersiapkan diri memasuki pasar kerja.

Target dan Sasaran
Terwujudnya model pemanfaatan ICT untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat miskin di pedesaan melalui data informasi dari internet guna mendukung pengelolaan usaha dan pemasaran hasil usaha di bidang pertanian. Kemitraan atau partnership merupakan kata pertama dari program ini dan diharapkan merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan proyek. Kemitraan dimaksud adalah kemitraan sejajar antara pusat, daerah dan negara donor.

Dalam pelaksanaannya akan dipilih lima desa di Indonesia dan salah satu desa yang terpilih adalah di Jawa Timur. Komponen penting dari program ini pada setiap proyek percontohan akan didirikan 1 (satu ) unit telecenter dengan sarana dan prasarana komputer yang tersambung ke internet dan dilengkapi dengan kegiatan pengembangan masyarakat dengan memanfaatkan sarana yang tersedia.

Penutup
Teknologi informasi merupakan alat bantu yang memungkinkan pengintegrasian beberapa kegiatan dalam satu proses yang lebih sederhana. Pemanfataan teknologi informasi dan komunikasi bukan hanya diorientasikan pada otomatisasi perkantoran saja, akan tetapi lebih dari itu adalah mampu berkomunikasi dengan unit lain dan masyarakat sebagai bentuk unit pelayanan kepada masyarakat yang salah satunya dalam bentuk pendirian telecenter.

Untuk dapat memberikan pelayanan publik yang prima suatu unit pelayanan publik dituntut dapat menyediakan ruang tunggu yang nyaman, waktu yang cepat, tepat, mudah dan murah serta efisien. Dibalik kemudahan dalam menyediakan informasi secara cepat, tepat dan akurat, sudah tentu kondisi semacam ini tidak mungkin lagi hanya mengandalkan kemampuan manusia secara manual, akan tetapi diperlukan sarana pembantu yakni teknologi informasi dan komunikasi. Perubahan sikap dan perilaku baik aparat maupun masyarakat mempunyai peran besar terhadap keberhasilan penerapan teknologi informasi dan komunikasi, karena perangkat yang canggih dan mahal tetapi tidak diimbangi dengan kesiapan manusia yang akan memanfaatkannya justru menimbulkan kondisi yang tidak produktif. Oleh karena itu aspek non teknis berupa rekayasa sosial (social engineering) menjadi salah satu unsur penting yang semestinya diupayakan mengiringi aspek teknis (technical engineering) yang sedang dikembangkan dalam implementasi kegiatan telecenter ini. Telecenter dapat berjalan dengan baik melalui dukungan dan partisipasi sebesar – besarnya dari seluruh lapisan masyarakat.

Batik Pekalongan

Batik Pekalongan termasuk batik pesisir yang paling kaya akan warna. Sebagaimana ciri khas batik pesisir, ragam hiasnya biasanya bersifat naturalis. Jika dibanding dengan batik pesisir lainnya Batik Pekalongan ini sangat dipengaruhi pendatang keturunan China dan Belanda. Motif Batik Pekalongan sangat bebas, dan menarik, meskipun motifnya terkadang sama dengan batik Solo atau Yogya, seringkali dimodifikasi dengan variasi warna yang atraktif. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai hingga 8 warna yang berani, dan kombinasi yang dinamis. Motif yang paling populer di dan terkenal dari pekalongan adalah motif batik Jlamprang.

Batik Pekalongan banyak dipasarkan hingga ke daerah luar jawa, diantaranya Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Minahasa, hingga Makassar. Biasanya pedagang batik di daerah ini memesan motif yang sesuai dengan selera dan adat daerah masing-masing.

Keistimewaan Batik Pekalongan adalah, para pembatiknya selalu mengikuti perkembangan jaman . Misalnya pada waktu penjajahan Jepang, maka lahir batik dengan nama’Batik Jawa Hokokai’,yaitu batik dengan motif dan warna yang mirip kimono Jepang. Pada umumnya batik jawa hokokai ini merupakan batik pagi-sore. Pada tahun enampuluhan juga diciptakan batik dengan nama tritura. Bahkan pada tahun 2005, sesaat setelah presiden SBY diangkat muncul batik dengan motif ‘SBY’ yaitu motif batik yang mirip dengankain tenun ikat atau songket. Motif yang cukup populer akhir-akhir ini adalah motif Tsunami. Memang orang Pekalongan tidak pernah kehabisan ide untuk membuat kreasi motif batik.

 

Sumber: Ungkapan Spesial Batik, Its Mystery and Meaning

Published in:

on November 23, 2007 at 8:04 pm
Tags: , , ,

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.